topbella

Jumat, 22 Februari 2013

Belajar Dahlan



Dia yang selalu percaya. Ketika orang lain merasa dirinya sendiri yang terbaik dan superior, dia percaya bahwa setiap orang memiliki keahliannya masing-masing. Meyingkirkan ego untuk menjadi dominan dan memberi kepercayaa orang lain untuk menyelesaikan masalah yang ada.


Dia yang selalu menghargai. Ketika orang lain lebih suka mengeluh dan mengkritik, dia percaya bahwa setiap orang telah melakukan usahanya semaksimal mungkin untuk mengubah keadaan menjadi lebih baik. Maka yang diperlukan adalah apresiasi untuk terus berprestasi dan bantuan untuk mengubah keadaan menjadi lebih baik lagi.


Dia yang apa adanya. Ketika orang lain mendambakan kenyamanan dan kemewahan sebagai bagian dari pekerjaannya, dia lebih suka turun langsung ke lapangan. Apa adanya melihat kenyataan dengan mata baginya tampak lebih meyakinkan daripada deskripsi-deskripsi dalam lembaran kertas. Dia yang tidak segan untuk repot karena itu memang tugasnya. Menyingkirkan jas, sepatu kulit, dan segala bentuk formalitas yang mengganggu pekerjaannya.


Dia Dahlan Iskan.


sumber: dahlaniskan.wordpress.com

Aku Selalu Paling Benar



Apa itu kebenaran? Sebuah pertanyaan klasik dengan beribu jawaban. Mulai dari idealis sampai pada pragmatis. Menempatkan sebuah tujuan sebagai simbol suci untuk dijunjung tinggi dan pada akhirnya memaksa orang lain untuk mensucikannya juga. Mereka yang menolaknya, katakan saja mereka tidak bermoral, egois, dan berbagai macam makian yang entah bagaimana bisa keluar dari mulut-mulut orang yang suci tersebut. Suci karena mereka bersama kebenaran.
adakah musuh kita selalu salah dan kita selalu benar?
Aku telah bertemu dengan berbagai orang dan tiap orang tersebut mendefiniskan sendiri kebenaran mereka. Kebenaran yang berbeda itu bagi tiap orang menjadi Tuhan mereka, mereka marah ketika orang tidak setuju dan menganggap orang tersebut kafir dari kebenaran mereka. Tidak sadarkah bahawa kita sendiri pun belum sepakat dengan kebenaran kita?
adakah kita akan menyebut sesuatu yang merugikan diri kita sebagai kebenaran?
Lalu pada akhirnya sampailah saya pada penghujung simpulan. Mulut boleh berkata karena lidah tak bertulang, tetapi tindakan membuktikan apa yang sebenarnya berada dalam pikiran. Kebenaran adalah sebuah bentuk kepenntingan yang disucikan. Itulah sebabnya kebenaran selalu berubah.
pada akhirnya kita belum bisa menjunjung tinggi kebenaran, apa yang kita junjung selama ini adalah kepentingan
Pada akhirnya kita harus bercermin pada tindakan kita. Apakah memang seperti itukah kebenaran? Sebuah kepentingan pribadi yang disucikan. Membuat diri sendiri menjadi sangat bermoral karena menjunjungnya dan merendahkan moral orang lain karena berbeda. Pada akhirnya semua orang merasa paling benar sendiri dan tak ada orang yang paling salah. Selama kepentingan diperjuangkan, maka saat itulah kebenaran ditegakkan. Eh?


gambar: do-while.com

Dibenci oleh yang Dipuja



Siapa tidak kenal Soe Hok Gie? Nama yang sangat populer di kalangan mahasiswa, aktivis, idealis, atau apapun lah itu namanya. Saya pribadi tidak begitu mengnalnya karena mungkin saya bukan seorang idealis, aktivis, atau apapunlah itu. Kalaupun ada orang yang menyebut saya demikian, saya pribadi tidak begitu suka dengan sebutan itu.


Masih terlalu banyak mahasiswa yang bermental sok kuasa. Merintih kalau ditekan, tetapi menindas kalau berkuasa. Mementingkan golongan, ormas, teman seideologi dan lain-lain. Setiap tahun datang adik-adik saya dari sekolah menengah. Mereka akan jadi korban-korban baru untuk ditipu oleh tokoh-tokoh mahasiswa semacam tadi. (Soe Hok Gie)


Satu hal yang menarik adalah bagaimana para aktivis idealis tersebut begitu memuja-mujanya, mendengaungkan kata-katanya ke seantero negeri demi menyampaikan pesan tersebut. Seolah mereka hendak menjadi Gie berikutya. Dengan idealisme menantang semuanya.

Saya ingin melihat mahasiswa-mahasiswa, jika sekiranya ia mengambil keputusan yang mempunyai arti politis, walau bagaimana kecilnya, selalu didasarkan atas prinsip-prinsip yang dewasa. Mereka yang berani menyatakan benar sebagai kebenaran, dan salah sebagai kesalahan. Dan tidak menerapkan kebenaran atas dasar agama, ormas, atau golongan apapun. (Soe Hok Gie)

Namun beberapa kata-kata Gie menyadarkan saya. Apa yang saya lihat saat ini, justru sebagian dari mereka yang menganggap Gie sebagai pahlawan adalah mereka yang dibenci oleh Gie sendiri. Benarkah?


gambar: muhammadharir.deviantart.com






NB: Omong-omong maaf jika akhir-akhir ini saya jadi terlalu sering manulis. terlalu banyak omong kosong idealisme yang tidak sesuai dengan perilaku yang terjadi di kampus saya. Maaf juga jika kali ini saya menggunakan kata "mereka" dan bukan "kita" meski saya mungkin bagian dari "mereka"

Hidup dalam Bayangan



gambar: vadonny88.deviantart.com
Lelaki itu menghentikan langkahnya sejenak, meneruskan pandangannya kepada segerombol mahasiswa yang berdiri di depan sana. Kepayahan menahan terik panas yang membuat orang tidak betah berada di luar ruangan  mereka tetap berdiri dengan penuh semangat dan teriakan. Tapi untuk apa?

Penindasan dan ketidakadilan serta kekurangan memang untuk dikritisi agar dapat berusaha menjadi lebih baik lagi. Namun seharusnya kebaikan juga berhak mendapatkan apresiasi sebagaimana kesalahan mendapatkan kritik. Bukan justru kebaikan pun dikritik secara membabi buta ibarat orang yang belum akhil baligh tidak bisa membedakan kebaikan dan keburukan.

Kini sudah bukan lagi zaman orde baru dimana demonstrasi adalah suatu tontonan yang langka. Kini orang justru telah muak dengan berbagai demonstrasi di jalanan. Beberapa dari mereka yang lebih kreatif melakukan demonstrasi melalui seni, musik, wayang, lukisan, dan berbagai macam media elektronik yang menjamur bak cendawan di musim hujan. Bentuk-bentuk yang seringkali justru diapresiasi sebagai sebuah bentuk kritikan cerdas.

Lalu untuk apa mereka disana? Memperjuangkan gagasan yang bisa mereka wujudkan dengan tangan mereka sendiri tetapi lebih tertarik untuk berteriak di jalanan dan sekali lagi menjadi simbol dari perlawanan terhadap penindasan. Mengapa berpuas diri menjadi simbol jika kita bisa berusaha sendiri? Apakah kita terlalu malas bertindak dan berharap sebuah simbol dapat menyelesaikan permasalahan yang ada?

Orang akan menempuh berbagai cara untuk meraih cita-cita dan tentunya akan mencoba jalan paling efektif untuk meraihnya. Namun apa yang laki-laki itu lihat disana bukanlah demikian. Maka muncul gagasan apakah mungkin bahwa terwujudnya cita-cita tersebut bukanlah sesuatu yang mereka inginkan?

Lalu disana dia melihat bayangan yang menaungi mereka. Bayangan prestasi dan keberhasilan mahasiswa untuk bersatu padu membuat perubahan besar melalui demonstrasi pada zamannya. Apakah itu arti dari ini semua? Sebuah bentuk perwujudan untuk menunjukkan eksistensi suatu generasi pada generasi lainya? Apakah ini semua hanya untuk itu, eksistensi? Maka kasihanilah mereka yang hidup dalam bayang-bayang orang lain.

memahami para Revolusioner



Konon revolusi adalah suatu harga mati atas perubahan. Pemberontakan, gerakan radikal semua seolah menjadi syarat mutlak akan adanya perubahan. Saya bukan orang yang anti perubahan. Hanya saja bagaimana perubahan itu terjadi menjadi catatan tersendiri yang harus diperhatikan.

Revolusioner, seolah selalu dan harus ditandai dengan adanya gerakan radikal yang sifatnya merusak. Seolah sebuah pembangunan harus dimulai dengan perusakan. Tidak dapatkah kita berubah tanpa merugikan orang lain?

Semua itu biasanya disebut sebagai pengorbanan, harga yang harus dibayar untuk perubahan. Lucunya kenapa harus orang lain yang berkorban? Jika ledakan bisa mengubah segalanya kenapa tidak ledakkan rumah kita sendiri? Jika kematian bisa mengubah segalanya kenapa tidak kita bunuh saja saudara-saudara kita, teman-teman kita, atau bahkan diri kita sendiri?

Kenapa harus selalu orang lain. Jika pun ada bagian dari diri kita yang mati, apakah memang dari awal kita menghendakinya atau keterpaksaan? Jika kita yang harus berkorban, bisakah kita bersikap biasa sebagaimana kita bersikap terhadap orang lain menjadi korban?

Sejarah mencatat berbagai macam revolusi, dan kebanyakan yang menjadi topik adalah revolusi dengan kekerasa. Meski mengatasnamakan rakyat, pada akhirnya itu semua hanya menjadi omong kosong pertarungan antara elit. Usaha untuk menjatuhkan rezim yang berkuasa dengan rezim lainnya, dan bagaimanapun juga rakyat hanya menjadi alat. Padahal rakyatlah yang selalu harus berkorban.

Lalu sejauh mana revolusi membuat perubahan? Sejauh mana pula korban harus jatuh dalam revolusi?

Pray for Revolution (denull.deviantart.com)

Saya Suka Hujan



Tik...tik...tik..bunyi hujan di atas genting. Airnya turun tidak terkira. Cobalah tengok daun dan ranting. Pohon dan kebun basah semua. (Hujan - Ibu Sud)
Saya suka hujan. Aroma yang tercium ketika tetes pertama menyentuh bumi seolah menghapuskan dahaga setelah seharian terpapar pancaran cahaya menyilaukan. Aroma kesegaran merasuk sel-sel dalam tubuh. Memberikan semangat dan perasaan menenangkan. Seolah benar apa kata pepatah, panas setahun dihapus hujan sehari.

Saya suka hujan. Suara bergemuruh di atap rumah menemani kesunyian dalam hati. Seolah menunjukkan bahwa kita tidak sendirian di dunia ini. Kita tidak sendiri dalam menghadapai segala masalah yang ada. Bahwa selalu ada orang lain yang menemanimu di dunia ini.

Saya suka hujan. Hawa dingin yang menggigit merasuk kalbu, membuat kita bersyukur akan kehangatan. Syukur, kata yang sering teringat setalah kita kehilangan sesuatu. Kata yang sering terlupa ketika kita memiliki apa yang kita inginkan. Seolah Ying dan Yang, rasa dingin dan kehangatan merupakan pasangan yang memberikan kenyamanan.

Saya suka hujan. Tetes-tetes air yang menerpa bagian terluar tubuh. Menyejukkan raga yang selama ini terlalu lama bekerja, menentramkan batin. Membasahi jiwa yang selama ini terlalu kering akibat huru-hara duniawi. Mendekatkan diri pada alam, membasuh kehampaan.

Saya suka hujan.

Sang Anak Hujan (missnajm.deviantart.com)

Bekerja di Tambang




Bagi sebagian orang bekerja di perusahaan tambang merupakan impian tersendiri. Dengan iming-iming gaji tinggi, fasilitas lengkap, dan sebagainya sangat menarik hati terutama bagi mereka yang sangat mengejar materi sebagai kebutuhan hidupnya. Namun tidak banyak orang yang tahu seperti apa bekerja di perusahaan tambang sebenarnya.

Remote Area
"Kan enak kerja di tambang, gajinya gedhe"
Kebanyakan perusahaan tambang berada di daerah terpencil bahkan di remote area (minimal satu jam perjalanan dari perkampungan terdekat). Itu berarti disana fasilitas publik masih terbatas. Begitu juga fasilitas hiburan, makanan, perdagangan, dan sebagainya yang serba terbatas.

Hal ini yang sering dikeluhkan oleh para rekruiter perusahaan tambang: banyak orang menginginkan bekerja di tambang,tetapi tidak banyak yang bersedia ditempatkan di site. Kebanyakan pelamar ingin bekerja di perusahaan tambang namun mereka menginginkan ditempatkan di head office di Jakarta, Balikpapan, atau kota-kota besar lainnya.

Selain itu perlu dipertimbangkan juga bahwa gaji yang besar tersebut akan diimbangi dengan pengeluaran yang besar. Di daerah-daerah tambang biasanya harga barang kebutuhan dan makanan akan menjadi sangat mahal. Selain karena terbatasnya transportasi dan barang dagangan yang ada, asumsi bahwa perusahaan tambang sebagai perusahaan dengan banyak uang membuat para pedagang di sekitar berani memasang tarif tinggi untuk dagangan mereka. Jadi pada akhirnya semua akan sama saja.

Sistem Rooster
"Gakpapa kok di daerah terpencil, kan cutinya lama dan dapet biaya tiket perjalanan"
Sebagian lainnya beranggapan bahwa meskipun di daerah terpencil tetapi mereka berasumsi akan mendapat "jatah" cuti dan pulang ke daerah asal dengan penerapan sistemrooster. Kebanyakan beranggapan bahwa sistem rooster berupa 3 bulan kerja dan 2 minggu libur.

Tapi sayangnya tidak semua perusahaan tambang seperti itu. Sistem rooster biasanya digunakan oleh para kontraktor tambang, sedangkan owner tambang kebanyakan menggunakan sistem kerja reguler dimana 5 hari kerja/minggu dan 8jam/hari. Meski menggunakan sistem reguler, namun jatah cuti lebih banyak yaitu 14 hari cuti dan 6 harihome leave.

Sedangkan untuk sistem rooster sendiri jangan diangap sebagai suatu hal yang menyenangkan. Biasanya sistem rooster menggunakan model 13 hari kerja dan 1 hari libur. Itu berarti dalam dua minggu kita hanya akan mendapatkan jatah libur satu hari. Jatah libur lainnya akan diakumulasikan menjadi hari off dimana biasanya karyawan akan dipulangkan ke daerah asalnya.

Selain libur satu hari dalam dua minggu, jam kerja yang ada juga tidaklah menyenangkan. Bekerja di kontraktor seringkali anda berangkat paling siang pukul 6 pagi (beberapa bahkan sebelum subuh sudah berangkat) dan pantang pulang sebelum matahari terbenam. Belum lagi jika mendapat giliran untuk shift malam. Maka bisa anda banyangkan bagaimana kehidupan tambang sebenarnya.

Fasilitas Lengkap
"Bekerja di tambang kan enak, fasilitas lengkap"
Biasanya perusahaan tambang memberikan fasilitas lengkap untuk para karyawannya. Mulai dari tempat tinggal, makanan, laundry, transportasi (terbatas), fasilitas olahraga, dan sebagainya. Hal ini tampaknya menjadi suatu hal yang sangat menggiurkan.

Fasilitas-fasilitas ini sebenarnya sebagai bentuk "penghibur" atas minimnya sarana hiburan di daerah tersebut. Dalam artian fasilitas tersebut memang tersedia, namun hanya itu saja ang ada. Terlebih dengan beban kerja dan jam kerja yang ada bisa jadi kita tidak akan bisa terlalu sering menggunakan fasilitas tersebut.

Keamanan
Kebutuhan akan keamanan merupakan kebutuhan dasar kedua setelah kebutuhan fisiologis menurut piramida Maslow. Namun sayangnya bekerja di perusahaan tambang berarti anda harus siap untuk berhadapan dengan rasa tidak aman.

Perusahaan tambang merupakan perusahaan dengan kapital dan kemampuan teknologi tinggi. Namun sayangnya perusahaan semacam ini justru berada di daerah terpencil dan cenderung tertinggal. Dampaknya adalah munculnya ketimpangan sosial yang sangat tinggi dan rawan konflik sosial.

Meskipun banyak program pengembangan masyarakat dan bantuan telah dikucurkan, namun potensi konflik sosial masih tinggi. Maka dari itu ada kelakar bahwa demonstrasi sudah menjadi hal yang sangat lumrah terjadi di perusahaan tambang. Hal ini dikarenakan perusahaan dipandang masyarakat sebagai bongkahan emas di pedalaman hutan.

No Pain, No Gain
Apa yang hendak saya sampaikan dalam tulisan ini adalah bahwa jangan pernah berpikir untuk bermalas-malasan dan mendapatkan hasil yang banyak. Hasil yang kita dapat nantinya sebenarnya adalah buah dari kerja keras kita sendiri. Dimanapun kita bekerja nantinya pasti ada kelebihan dan kekurangannya.

Sudah menjadi sunatullah kehidupan bahwa hasil berbanding lurus dengan usaha dan pengorbanan yang kita lakukan.Hal ini bahkan telah dijamin oleh Tuhan yang Maha Adil. Jadi jangan berharap akan mendapatkan hasil yang baik tanpa adanya usaha yang baik pula.

Bagaimanapun juga bekerja bukan sebatas mencari materi. Rasanya terlalu sayang jika kita manusia yang mulia ini harus tunduk dan menghamba pada materi. Lebih dari itu menurut saya bekerja berangkat dari hati. Setiap orang memiliki bidang kecocokannya masing-masing. Itulah yang paling utama, menemukan pekerjaan yang paling cocok dengan diri kita.

Mengenai Saya

Escape 4 A While
Lihat profil lengkapku