topbella

Jumat, 22 Februari 2013

Belajar Dahlan



Dia yang selalu percaya. Ketika orang lain merasa dirinya sendiri yang terbaik dan superior, dia percaya bahwa setiap orang memiliki keahliannya masing-masing. Meyingkirkan ego untuk menjadi dominan dan memberi kepercayaa orang lain untuk menyelesaikan masalah yang ada.


Dia yang selalu menghargai. Ketika orang lain lebih suka mengeluh dan mengkritik, dia percaya bahwa setiap orang telah melakukan usahanya semaksimal mungkin untuk mengubah keadaan menjadi lebih baik. Maka yang diperlukan adalah apresiasi untuk terus berprestasi dan bantuan untuk mengubah keadaan menjadi lebih baik lagi.


Dia yang apa adanya. Ketika orang lain mendambakan kenyamanan dan kemewahan sebagai bagian dari pekerjaannya, dia lebih suka turun langsung ke lapangan. Apa adanya melihat kenyataan dengan mata baginya tampak lebih meyakinkan daripada deskripsi-deskripsi dalam lembaran kertas. Dia yang tidak segan untuk repot karena itu memang tugasnya. Menyingkirkan jas, sepatu kulit, dan segala bentuk formalitas yang mengganggu pekerjaannya.


Dia Dahlan Iskan.


sumber: dahlaniskan.wordpress.com

Aku Selalu Paling Benar



Apa itu kebenaran? Sebuah pertanyaan klasik dengan beribu jawaban. Mulai dari idealis sampai pada pragmatis. Menempatkan sebuah tujuan sebagai simbol suci untuk dijunjung tinggi dan pada akhirnya memaksa orang lain untuk mensucikannya juga. Mereka yang menolaknya, katakan saja mereka tidak bermoral, egois, dan berbagai macam makian yang entah bagaimana bisa keluar dari mulut-mulut orang yang suci tersebut. Suci karena mereka bersama kebenaran.
adakah musuh kita selalu salah dan kita selalu benar?
Aku telah bertemu dengan berbagai orang dan tiap orang tersebut mendefiniskan sendiri kebenaran mereka. Kebenaran yang berbeda itu bagi tiap orang menjadi Tuhan mereka, mereka marah ketika orang tidak setuju dan menganggap orang tersebut kafir dari kebenaran mereka. Tidak sadarkah bahawa kita sendiri pun belum sepakat dengan kebenaran kita?
adakah kita akan menyebut sesuatu yang merugikan diri kita sebagai kebenaran?
Lalu pada akhirnya sampailah saya pada penghujung simpulan. Mulut boleh berkata karena lidah tak bertulang, tetapi tindakan membuktikan apa yang sebenarnya berada dalam pikiran. Kebenaran adalah sebuah bentuk kepenntingan yang disucikan. Itulah sebabnya kebenaran selalu berubah.
pada akhirnya kita belum bisa menjunjung tinggi kebenaran, apa yang kita junjung selama ini adalah kepentingan
Pada akhirnya kita harus bercermin pada tindakan kita. Apakah memang seperti itukah kebenaran? Sebuah kepentingan pribadi yang disucikan. Membuat diri sendiri menjadi sangat bermoral karena menjunjungnya dan merendahkan moral orang lain karena berbeda. Pada akhirnya semua orang merasa paling benar sendiri dan tak ada orang yang paling salah. Selama kepentingan diperjuangkan, maka saat itulah kebenaran ditegakkan. Eh?


gambar: do-while.com

Dibenci oleh yang Dipuja



Siapa tidak kenal Soe Hok Gie? Nama yang sangat populer di kalangan mahasiswa, aktivis, idealis, atau apapun lah itu namanya. Saya pribadi tidak begitu mengnalnya karena mungkin saya bukan seorang idealis, aktivis, atau apapunlah itu. Kalaupun ada orang yang menyebut saya demikian, saya pribadi tidak begitu suka dengan sebutan itu.


Masih terlalu banyak mahasiswa yang bermental sok kuasa. Merintih kalau ditekan, tetapi menindas kalau berkuasa. Mementingkan golongan, ormas, teman seideologi dan lain-lain. Setiap tahun datang adik-adik saya dari sekolah menengah. Mereka akan jadi korban-korban baru untuk ditipu oleh tokoh-tokoh mahasiswa semacam tadi. (Soe Hok Gie)


Satu hal yang menarik adalah bagaimana para aktivis idealis tersebut begitu memuja-mujanya, mendengaungkan kata-katanya ke seantero negeri demi menyampaikan pesan tersebut. Seolah mereka hendak menjadi Gie berikutya. Dengan idealisme menantang semuanya.

Saya ingin melihat mahasiswa-mahasiswa, jika sekiranya ia mengambil keputusan yang mempunyai arti politis, walau bagaimana kecilnya, selalu didasarkan atas prinsip-prinsip yang dewasa. Mereka yang berani menyatakan benar sebagai kebenaran, dan salah sebagai kesalahan. Dan tidak menerapkan kebenaran atas dasar agama, ormas, atau golongan apapun. (Soe Hok Gie)

Namun beberapa kata-kata Gie menyadarkan saya. Apa yang saya lihat saat ini, justru sebagian dari mereka yang menganggap Gie sebagai pahlawan adalah mereka yang dibenci oleh Gie sendiri. Benarkah?


gambar: muhammadharir.deviantart.com






NB: Omong-omong maaf jika akhir-akhir ini saya jadi terlalu sering manulis. terlalu banyak omong kosong idealisme yang tidak sesuai dengan perilaku yang terjadi di kampus saya. Maaf juga jika kali ini saya menggunakan kata "mereka" dan bukan "kita" meski saya mungkin bagian dari "mereka"

Hidup dalam Bayangan



gambar: vadonny88.deviantart.com
Lelaki itu menghentikan langkahnya sejenak, meneruskan pandangannya kepada segerombol mahasiswa yang berdiri di depan sana. Kepayahan menahan terik panas yang membuat orang tidak betah berada di luar ruangan  mereka tetap berdiri dengan penuh semangat dan teriakan. Tapi untuk apa?

Penindasan dan ketidakadilan serta kekurangan memang untuk dikritisi agar dapat berusaha menjadi lebih baik lagi. Namun seharusnya kebaikan juga berhak mendapatkan apresiasi sebagaimana kesalahan mendapatkan kritik. Bukan justru kebaikan pun dikritik secara membabi buta ibarat orang yang belum akhil baligh tidak bisa membedakan kebaikan dan keburukan.

Kini sudah bukan lagi zaman orde baru dimana demonstrasi adalah suatu tontonan yang langka. Kini orang justru telah muak dengan berbagai demonstrasi di jalanan. Beberapa dari mereka yang lebih kreatif melakukan demonstrasi melalui seni, musik, wayang, lukisan, dan berbagai macam media elektronik yang menjamur bak cendawan di musim hujan. Bentuk-bentuk yang seringkali justru diapresiasi sebagai sebuah bentuk kritikan cerdas.

Lalu untuk apa mereka disana? Memperjuangkan gagasan yang bisa mereka wujudkan dengan tangan mereka sendiri tetapi lebih tertarik untuk berteriak di jalanan dan sekali lagi menjadi simbol dari perlawanan terhadap penindasan. Mengapa berpuas diri menjadi simbol jika kita bisa berusaha sendiri? Apakah kita terlalu malas bertindak dan berharap sebuah simbol dapat menyelesaikan permasalahan yang ada?

Orang akan menempuh berbagai cara untuk meraih cita-cita dan tentunya akan mencoba jalan paling efektif untuk meraihnya. Namun apa yang laki-laki itu lihat disana bukanlah demikian. Maka muncul gagasan apakah mungkin bahwa terwujudnya cita-cita tersebut bukanlah sesuatu yang mereka inginkan?

Lalu disana dia melihat bayangan yang menaungi mereka. Bayangan prestasi dan keberhasilan mahasiswa untuk bersatu padu membuat perubahan besar melalui demonstrasi pada zamannya. Apakah itu arti dari ini semua? Sebuah bentuk perwujudan untuk menunjukkan eksistensi suatu generasi pada generasi lainya? Apakah ini semua hanya untuk itu, eksistensi? Maka kasihanilah mereka yang hidup dalam bayang-bayang orang lain.

memahami para Revolusioner



Konon revolusi adalah suatu harga mati atas perubahan. Pemberontakan, gerakan radikal semua seolah menjadi syarat mutlak akan adanya perubahan. Saya bukan orang yang anti perubahan. Hanya saja bagaimana perubahan itu terjadi menjadi catatan tersendiri yang harus diperhatikan.

Revolusioner, seolah selalu dan harus ditandai dengan adanya gerakan radikal yang sifatnya merusak. Seolah sebuah pembangunan harus dimulai dengan perusakan. Tidak dapatkah kita berubah tanpa merugikan orang lain?

Semua itu biasanya disebut sebagai pengorbanan, harga yang harus dibayar untuk perubahan. Lucunya kenapa harus orang lain yang berkorban? Jika ledakan bisa mengubah segalanya kenapa tidak ledakkan rumah kita sendiri? Jika kematian bisa mengubah segalanya kenapa tidak kita bunuh saja saudara-saudara kita, teman-teman kita, atau bahkan diri kita sendiri?

Kenapa harus selalu orang lain. Jika pun ada bagian dari diri kita yang mati, apakah memang dari awal kita menghendakinya atau keterpaksaan? Jika kita yang harus berkorban, bisakah kita bersikap biasa sebagaimana kita bersikap terhadap orang lain menjadi korban?

Sejarah mencatat berbagai macam revolusi, dan kebanyakan yang menjadi topik adalah revolusi dengan kekerasa. Meski mengatasnamakan rakyat, pada akhirnya itu semua hanya menjadi omong kosong pertarungan antara elit. Usaha untuk menjatuhkan rezim yang berkuasa dengan rezim lainnya, dan bagaimanapun juga rakyat hanya menjadi alat. Padahal rakyatlah yang selalu harus berkorban.

Lalu sejauh mana revolusi membuat perubahan? Sejauh mana pula korban harus jatuh dalam revolusi?

Pray for Revolution (denull.deviantart.com)

Saya Suka Hujan



Tik...tik...tik..bunyi hujan di atas genting. Airnya turun tidak terkira. Cobalah tengok daun dan ranting. Pohon dan kebun basah semua. (Hujan - Ibu Sud)
Saya suka hujan. Aroma yang tercium ketika tetes pertama menyentuh bumi seolah menghapuskan dahaga setelah seharian terpapar pancaran cahaya menyilaukan. Aroma kesegaran merasuk sel-sel dalam tubuh. Memberikan semangat dan perasaan menenangkan. Seolah benar apa kata pepatah, panas setahun dihapus hujan sehari.

Saya suka hujan. Suara bergemuruh di atap rumah menemani kesunyian dalam hati. Seolah menunjukkan bahwa kita tidak sendirian di dunia ini. Kita tidak sendiri dalam menghadapai segala masalah yang ada. Bahwa selalu ada orang lain yang menemanimu di dunia ini.

Saya suka hujan. Hawa dingin yang menggigit merasuk kalbu, membuat kita bersyukur akan kehangatan. Syukur, kata yang sering teringat setalah kita kehilangan sesuatu. Kata yang sering terlupa ketika kita memiliki apa yang kita inginkan. Seolah Ying dan Yang, rasa dingin dan kehangatan merupakan pasangan yang memberikan kenyamanan.

Saya suka hujan. Tetes-tetes air yang menerpa bagian terluar tubuh. Menyejukkan raga yang selama ini terlalu lama bekerja, menentramkan batin. Membasahi jiwa yang selama ini terlalu kering akibat huru-hara duniawi. Mendekatkan diri pada alam, membasuh kehampaan.

Saya suka hujan.

Sang Anak Hujan (missnajm.deviantart.com)

Bekerja di Tambang




Bagi sebagian orang bekerja di perusahaan tambang merupakan impian tersendiri. Dengan iming-iming gaji tinggi, fasilitas lengkap, dan sebagainya sangat menarik hati terutama bagi mereka yang sangat mengejar materi sebagai kebutuhan hidupnya. Namun tidak banyak orang yang tahu seperti apa bekerja di perusahaan tambang sebenarnya.

Remote Area
"Kan enak kerja di tambang, gajinya gedhe"
Kebanyakan perusahaan tambang berada di daerah terpencil bahkan di remote area (minimal satu jam perjalanan dari perkampungan terdekat). Itu berarti disana fasilitas publik masih terbatas. Begitu juga fasilitas hiburan, makanan, perdagangan, dan sebagainya yang serba terbatas.

Hal ini yang sering dikeluhkan oleh para rekruiter perusahaan tambang: banyak orang menginginkan bekerja di tambang,tetapi tidak banyak yang bersedia ditempatkan di site. Kebanyakan pelamar ingin bekerja di perusahaan tambang namun mereka menginginkan ditempatkan di head office di Jakarta, Balikpapan, atau kota-kota besar lainnya.

Selain itu perlu dipertimbangkan juga bahwa gaji yang besar tersebut akan diimbangi dengan pengeluaran yang besar. Di daerah-daerah tambang biasanya harga barang kebutuhan dan makanan akan menjadi sangat mahal. Selain karena terbatasnya transportasi dan barang dagangan yang ada, asumsi bahwa perusahaan tambang sebagai perusahaan dengan banyak uang membuat para pedagang di sekitar berani memasang tarif tinggi untuk dagangan mereka. Jadi pada akhirnya semua akan sama saja.

Sistem Rooster
"Gakpapa kok di daerah terpencil, kan cutinya lama dan dapet biaya tiket perjalanan"
Sebagian lainnya beranggapan bahwa meskipun di daerah terpencil tetapi mereka berasumsi akan mendapat "jatah" cuti dan pulang ke daerah asal dengan penerapan sistemrooster. Kebanyakan beranggapan bahwa sistem rooster berupa 3 bulan kerja dan 2 minggu libur.

Tapi sayangnya tidak semua perusahaan tambang seperti itu. Sistem rooster biasanya digunakan oleh para kontraktor tambang, sedangkan owner tambang kebanyakan menggunakan sistem kerja reguler dimana 5 hari kerja/minggu dan 8jam/hari. Meski menggunakan sistem reguler, namun jatah cuti lebih banyak yaitu 14 hari cuti dan 6 harihome leave.

Sedangkan untuk sistem rooster sendiri jangan diangap sebagai suatu hal yang menyenangkan. Biasanya sistem rooster menggunakan model 13 hari kerja dan 1 hari libur. Itu berarti dalam dua minggu kita hanya akan mendapatkan jatah libur satu hari. Jatah libur lainnya akan diakumulasikan menjadi hari off dimana biasanya karyawan akan dipulangkan ke daerah asalnya.

Selain libur satu hari dalam dua minggu, jam kerja yang ada juga tidaklah menyenangkan. Bekerja di kontraktor seringkali anda berangkat paling siang pukul 6 pagi (beberapa bahkan sebelum subuh sudah berangkat) dan pantang pulang sebelum matahari terbenam. Belum lagi jika mendapat giliran untuk shift malam. Maka bisa anda banyangkan bagaimana kehidupan tambang sebenarnya.

Fasilitas Lengkap
"Bekerja di tambang kan enak, fasilitas lengkap"
Biasanya perusahaan tambang memberikan fasilitas lengkap untuk para karyawannya. Mulai dari tempat tinggal, makanan, laundry, transportasi (terbatas), fasilitas olahraga, dan sebagainya. Hal ini tampaknya menjadi suatu hal yang sangat menggiurkan.

Fasilitas-fasilitas ini sebenarnya sebagai bentuk "penghibur" atas minimnya sarana hiburan di daerah tersebut. Dalam artian fasilitas tersebut memang tersedia, namun hanya itu saja ang ada. Terlebih dengan beban kerja dan jam kerja yang ada bisa jadi kita tidak akan bisa terlalu sering menggunakan fasilitas tersebut.

Keamanan
Kebutuhan akan keamanan merupakan kebutuhan dasar kedua setelah kebutuhan fisiologis menurut piramida Maslow. Namun sayangnya bekerja di perusahaan tambang berarti anda harus siap untuk berhadapan dengan rasa tidak aman.

Perusahaan tambang merupakan perusahaan dengan kapital dan kemampuan teknologi tinggi. Namun sayangnya perusahaan semacam ini justru berada di daerah terpencil dan cenderung tertinggal. Dampaknya adalah munculnya ketimpangan sosial yang sangat tinggi dan rawan konflik sosial.

Meskipun banyak program pengembangan masyarakat dan bantuan telah dikucurkan, namun potensi konflik sosial masih tinggi. Maka dari itu ada kelakar bahwa demonstrasi sudah menjadi hal yang sangat lumrah terjadi di perusahaan tambang. Hal ini dikarenakan perusahaan dipandang masyarakat sebagai bongkahan emas di pedalaman hutan.

No Pain, No Gain
Apa yang hendak saya sampaikan dalam tulisan ini adalah bahwa jangan pernah berpikir untuk bermalas-malasan dan mendapatkan hasil yang banyak. Hasil yang kita dapat nantinya sebenarnya adalah buah dari kerja keras kita sendiri. Dimanapun kita bekerja nantinya pasti ada kelebihan dan kekurangannya.

Sudah menjadi sunatullah kehidupan bahwa hasil berbanding lurus dengan usaha dan pengorbanan yang kita lakukan.Hal ini bahkan telah dijamin oleh Tuhan yang Maha Adil. Jadi jangan berharap akan mendapatkan hasil yang baik tanpa adanya usaha yang baik pula.

Bagaimanapun juga bekerja bukan sebatas mencari materi. Rasanya terlalu sayang jika kita manusia yang mulia ini harus tunduk dan menghamba pada materi. Lebih dari itu menurut saya bekerja berangkat dari hati. Setiap orang memiliki bidang kecocokannya masing-masing. Itulah yang paling utama, menemukan pekerjaan yang paling cocok dengan diri kita.

How to define "home"



Apa itu rumah? Sekedar bangunan batu berdiri kokoh melindungi orangorang yang ada di dalamnya. Benarkah demikian? Karena rumah tidak hanya sekedar tumpukan material yang melindungi manusia dari kejamnya alam.

Rumah bukanlah tempat kita berdiam dalam jangka waktu yang lama. Seseorang bisa terus merasa terasing meski sudah bertahun-tahun hidup di suatu daerah. Seseorang bisa juga merasa nyaman meski hanya satu atau dua hari berada di tempat tertentu.

Home (poprage.deviantart.com)

Rumah adalah sebuah konstruk psikis, yaitu tempat dimana orang merasa nyaman dan betah ketika berada di suatu wilayah. BUkan tumpukan materi yang menunjukkan keangkuhan. Rumah adalah dimana kita berada di sekeliling orang-orang yang kita sayangi dengan nyaman.

Keep Moving Forward


"Apa kenangan terindahmu?"

Aku terdiam sejenak, mencoba mengigat segala memori indah selama lebih dari dua dekade aku menghabiskan hidupku di dunia ini. "Entahlah, tertalu banyak hal indah di belakang sana. Dan aku tidak terlalu suka untuk mengingatnya terlalu lama"

"Aku menemukan sedikit paradoks di dalam pernyataanmu itu"

"Kau tahu, hidupku sangat dipenuhi kenangan-kenangan indah di masa lalu, dan satu-satunya hal paling pahit adalah ketika aku menyadari bahwa itu semua hanyalah masa lalu. Kita tidak pernah bisa mundur ke belakang."

"Aku paham", dirinya terdiam tanda mengerti. Sehebat apapun manusia, pada akhirnya waktu adalah suatu dimensi kekal yang tidak dapat kita taklukkan. Waktu-lah yang menunjukkan bahwa kita manusia, bukan Tuhan ataupun Dewa (jika itu benar ada).

"Masa lalu memang indah, tetapi itu sdah berlalu. Yang lebih utama adalah bagaimana kita bisa terus menikmati masa sekarang..."
"Around here, however, we don’t look backwards for very long. We keep moving forward, opening up new doors and doing new things… and curiosity keeps leading us down new paths.” - Walt Disney
"... ada banyak hal indah di dunia ini. Ada banyak cita-cita dan impian yang menunggu untuk diwujudkan. Jutaan impian besar yang harus kita bangun sebongkah demi sebongkah. Dan itu memerlukan ketetapan hati yang kuat dan kemauan."

Moving Forward (jesskat-art.deviantart.com)

"Aku tahu, kita harus menjadi kereta bukan?"

"Maksudmu?", aku tidak memahami maksudnya.

"Ada kalanya kita harus memutuskan untuk menutup telinga dan mulai berjalan. Di jalan nantinya akan ada banyak keributan dan kebisingan yang mengganggu kita. Namn bagaimana juga kita harus terus fokus dan berjalan menuju ujung rel."

"Kau benar, dunia ini terlalu indah untuk dihancurkan oleh perasaan pesimis dan cibiran. Ada impian-impian yang harus kita bangun sebongkah demi sebongkah. Tidak banyak, tetapi cukup besar ketika itu semua disatukan. Dan itu sudah cukup untuk membuat dunia menjadi lebih baik."
Siapa yang memberi makan pada dunia? Petani yang dengan diam-diam mengerjakan sawahnya. Siapa yang memayu ayuning bawana? Hanya mereka yang bekerja keras, mengeluarkan keringat dengan perbuatan yang nyata.(C.S. Adama van Scheltema)

Everything


Sorenya,

Entah kenapa kursi ini menjadi begitu tidak nyaman. Mungkin karena aku terlalu lama duduk di dalam kursi sandar yang nyaman di mejaku sana. Bukan, bukan itu. Tetapi duduk di ruangn ini terasa begitu menyesak. Menekan dada hingga paru-paru ingin menyembul keluar dari kerongkongan.

Terlalu banyak aura pembunuh disini. Orang-orang dengan berbagai keahlian dan kemampuan mereka yang sanggup membunuhku dalam sekejap. Disini, merekalah yang menggali bongkahan-bongahan impian yang telah berhasil disusun menjadi istana kebanggaan. Mereka adalah pejuang-pejuang tangguh, penakluk keajegan.

Dan disinilah aku,duduk terdiam terbunuh oleh aura mereka. Bermain dengan imajinasi dan pikiranku sendiri dan berpikir bahwa butir demi butir pasir yang aku lemparkan kepada mereka akan menjadi bagian dari istana megah itu. Aku bukan siapa-siapa.

Malamnya,

Ternyata dunia maya pun tak bersahabat denganku. Setelah seharian aku dicekik oleh kehebatan mereka, kini aku dihantam leh kepergian seseorang yang luar biasa. Seseorang yang bahkan hanya dengan kabar kepergiannya bisa menghancurkan puing-puing imajinasiku.

Mendadak diriku hancur lebur, tak beberbentuk. Bahkan aku ragu jika masih bisa menemukan puing-puing sisa dari keberadaanku. Remuk redam, hancur tak berbekas. Disinilah aku begitu menyadari bahwa aku hanyalah sebuah molekul es di hamparan kutub. Mera yang luar biasa, bukan aku.

Aku disini hanya asyik bermain dengan imajinasiku dan berpikir bahwa bongkahan gunung es tidak akan terbentuk tanpa keberadaanku. Aku terlalu angkuh. Ada trilyunan molekul es lain yang siap menggantikan fungsiku jika aku tidak ada. Aku bukanlah siapa-siapa.

Everything at Once - Lenka (source: http://vimeo.com/19877175)

But I promise to myself,
Maybe today i'm just nothing
But someday i'll be EVERYTHING

and we just talking something


Lelaki itu berdiri di tempat kencing sebelahnya, "Mas, Kau mau tahu cerita lucu tentang pesawat terbang?"

"Apa itu?", tanyanya sebagai basa-basi. Dia yakin itu hanyalah cerita yang sama diulang-ulang, cerita yang entah dia pernah dengar dari siapa dan diulang kembali oleh wajah-wajah baru penuh semangat seolah itu adalah cerita epik ciptaannya sendiri untuk menghibur orang lain, namun toh dia tetap mendengarkannya. Setidaknya lelaki itu mencoba menghibur, dan kita cukup diam dan mendengarkan untuk menghargainya.

"Suatu hari terbanglah pesawat Amerika Serikat melintasi Iran tanpa izin, lantas sang Jenderal pun segera memerintahkan anak buahnya 'Tembak! Tembak! jangan biarkan mereka lolos!' dengan penuh kekhawatiran. Para prajurit pun segera menembakkan senjata mereka berusaha menjatuhkan pesawat tersebut namun gagal", lelaki itu berhenti sejenak untuk mengambil nafas.

"Lalu setelah itu datang lagi pesawat dari Indonesia terbang tanpa izin lewat, namun kali ini para prajurit bingung karena sang Jenderal tampak diam saja. Kemudian mereka bertanya, 'Jenderal. apa perlu kita tembak jatuh mereka?'. Sang jenderal kemudian tertawa, 'itu pesawat Indonesia, tidak perlu ditembak nanti jatuh sendiri' hahaha", cerita itu ditutup dengan gelak tawa kedua lelaki di dalam toilet umum. Entah tawa ikhlas atau sekedar basa-basi.

Mendadak seorang lelaki keluar dari toilet di belakang mereka. Lelaki tersebut tampak lusuh, sudah berhari-hari dia tidak tidur untuk mewujudkan satu mimpinya: menciptakan pesawat terbang buatan Indonesia. Mendengar seluruh guyonan tersebut, dia hanya bisa tersenyum kecut.

Habibie - Pesawat Terbang

***

"Kau tahu? pemerintah tidak pernah memberikan perhatian khusus kepada anak-anak bangsa yang cerdas. Jadi jangan salahkan mereka ketika mereka memilih bekerja di luar negeri demi negeri lain daripada di Indonesia. Maklum saja, disana mereka dibayar lebih tinggi", lelaki itu bercerita dengan teman sebelahnya di balik koran. Berita pagi itu dihiasi denganjudul fenomenal dengan hambar sebuah mobil hitam buatan anak- SMK.

"Bagaimana menurutmu tentang mobil SMK itu?", tanya lelaki di depannya yang mencoba mencari-cari sebuah topik pembicaraan sekenanya.

"Ah, itu. Katanya sih mobil nasional, tapi onderdilnya impor semua. Dulu Timor juga bikin mobil nasional akhirnya pun gak laku. Kalau aku pribadi punya uang sebanyak itu, mending beli mobil lain merk Toyota, Daihatsu, atau apa lah. Yang lebih terpercaya pokoknya"

"Tentu saja, belum lagi nanti purna jualnya, dan sebagainya. Jangan-jangan nanti dua tahun sudah harus jadi besi tua, maklum yang bikin juga anak-anak", percakapan tersebut diakhir dengan senyum yang enath apa maknanya. Mungkin sekedar basa-basi. "Ini Jokowi juga walikota ngapain ngurusin mobil, kayak kerjaannya sudah beres semua"

"Ah itu paling cuma pencitraan untuk 2014 nanti haha ..."

Jokowi - Mobil SMK

***

"Masa mobilnya iru Ferari, pakai plat nomer palsu pula. Ada-ada saja pencitraan si Dahlan Iskan ini. Mau nyalon jadi 2014 ini pasti!"

"Betul itu! Lagian masa Ferari mau disamain sama mobil buatan Indonesia. Beda jauh lah! Mobil Indonesia gampang rusak gitu pasti, murahan pula. Apalagi ini mobil listrik"

"Sepeda listrik aja cuma bisa jalan pelan tersendat-sendat gitu, ini pake acara bikin mobil listrik. Ini Dahlan Iskan kurang kerjaan banget, sih. Mending ngurusin BUMN aja sana daripada ngurusin mobil"

"Bener sekali, tuh kan mobilnya aja akhirnya nabrak gara-gara rem blong, kemarin juga mogok pas uji coba. Emang gak ada harapan," muka remeh muncul di wajah kedua orang tersebut. Tampaknya mereka seolah marah, tapi tidak tahu marah sama siapa dan atas apa. Jadilah muka mereka tertekuk tanpa jelas kemana arahnya.

"Wah lagi rame nih, pada ngomongin mobil listrik buatan anak bangsa, plat nomer palsu, apa Dahlan Iskan nih?", lelaki itu menghampiri dengan wajah tersenyum.

Dahlan Iskan - Mobil Listrik

***

Applause (yslen.deviantart.com)

At least they do something to reach their dream
And we just talking something too
But it's hurts them..
... Sorry

Not yet a Man


Actualy i'm still boy who to against the world, not yet a man. But if i can choose, i want to be a boy in my entire life.

"Jika kau boleh memilih waktu, akankah kau memilih masa lalu?"

"Maksudmu?"

(sumber: gubraker.com)

Suara seruputan kopi memecah keheningan percakapan. Kopi sore itu pahit, kurang cocok sebenarnya sebagai teman bercengkrama ditemani cahaya senja. "Suara memang tidak dapat dibungkam, ada saja cara mereka untuk keluar ke dunia. Dan seni adalah media terindah untuk itu."

"Kau yakin masa lalu lebih indah?", tanyanya sembari menatap truk berjalan menjauh. Masih terlalu dini di tempat tersebut untuk dapat tenggelam di dalam keriuhan.

"Lalu bagaimana dengan mantanmu?"

"Maksudmu?"

"Itu masa lalu bukan?"

"Yah seperti masa sekolah kita dahulu"

"Jadi menurutmu, mana yang lebih indah? Masa lalu atau saat ini?"

Pertanyaan tersebut mengakhiri segala perdebatan. "Kalaupun masa lalu lebih indah, itu karena kita masih kanak-kanak. Kita bisa bebas bersenang-senang. Tapi sayangnya dunia ini dikuasai dan dibangun oleh orang-orang dewasa. Orang-orang yang dengan serius mengabdikan hidunya dan berkorban demi kebaikan dunia."

"Kenapa kita tidak bersenang-senang sembari membangun dunia? Bayangkan saja seperi kita bermain balok susun. Bukankah kita merindukan masa kanak-kanak tersebut?"

Mengenai Saya

Escape 4 A While
Lihat profil lengkapku